Romantis Kali Oppung Nahum Ini

Sebelum Bokap pulang awal bulan ini kami bertiga nonton drama musikal “Hasian : From Paris to Porsea” di TIM. Ternyata sepupu gw juga ikutan nonton. Karena suaminya ndak mau masuk, akhirnya si Tante (adik nyokap) lah yang nonton sekalian jadi suster infal buat momong Louis. Dan senangnya Neng Tikeu dan Kekeng nyusul ke TIM sehingga malam itu kami berakhir dengan makan bersama, liat Monas dan gedor pintu rumah Tulang malem-malem. Hehehe….

Muka sudah kenyang – foto oleh Pramusaji Pelangi Seafood

 

Awalnya Bokap yang lagi semangat ’45 menyelesaikan nge-cat rumah sempat mutung karena dadakan dikasih tau mau nonton. Jadilah drama banget nyuruh Bokap mandi biar bisa berangkat yang membuat kita nyampenya telat sekitar 10 menit. Begitu duduk adegannya lagi tangis-tangisan meratap khas orang Batak karena ditinggal suami pula. Mak….sampai sakit kepalaku dengarnya, kurasa itu meratapnya beneran kali ya. Bokap mutung di 15 menit pertama. Tapi syukurnya setelah keluar snack dan teh dari tas Kung semakin banyak lagu-lagu Batak yang keluar serta tokoh Inang Jabir yang luar biasa hidup sekali, Bokap bisa  menikmati acaranya. Ya anak Voice of Indonesia memang soal suara ndak perlu ditanyakanlah ya. Nyanyikan lagu-lagu Batak pula, ya harus patenlah ye kan?

Alur ceritanya sih sederhana. Tentang pemuda Batak yang dibesarkan di Paris sana yang berusaha menemukan cinta sambil melaksanakan wasiat perjodohan untuk menikahi paribannya, seorang perempuan Porsea totok yang menunda kuliah demi mengajar anak-anak di kampungnya.  Detail-detail naskahlah yang membuatnya jadi menarik. “Cok kau apakan apanya itu ke apa ya.” dan manisnya mulut si Inang Jabir ketika menerima telpon tapi langsung muntab mendaftarkan harta perhiasan sang eda di seberang sana saat mendengar kata menunggak.  Tapi sisi lain detail-nya pula yang mengganggu buat gw. Yakin ada anak kelahiran Porsea dan besar di Paris masih bicara logat Batak totok? Trus punya geng yang mantap-mantap kali logat Bataknya. Di Paris ada andaliman gitu? Ya kalilah, Bang. Awak aja bisa dapat logat Batak setelah habis di-bully abang-abang senior BTL-BTL di asrama kampus dulu. Kalok yang sudah besar di perantauan macam aku ini, baru liat muka saja dituduh Cina atau Menado. Pas ngomong dikira Jawa. Padahal awak cuma nyeberang Bakauheni – Merak. Sekarang jadi bisa ngomong Batak dan logat Medan pun gara-gara kerjaan dan hobi ngintip selebgram. Apa orang Batak Diaspora yang ada di Paris cem aku juga? Hahahahaha….

Pas adegan si boru pudannya Inang Jabir dan Amang Parbada meminta agar sekolahnya jangan dibubarkan

 

Gw semakin menyadari romantisnya Oppung Nahum Situmorang setelah nonton Hasian. Selama ini gw kagum sama Oppung doli ini karena beliau bisa membuat kita menerima betapa beradabnya  para lelaki peminum tuak yang bernyanyi di lapo lewat lagu Lissoi. Padahal kalau pergi ke kampung sana, mana bisa tidur kalau ada lapo dekat rumah. Berisik! Semalam-malaman lelaki akan minum dan bernyanyi  diiringi permainan gitar dengan sepenuh tenaga. Maafkan aku, Oppung.

Tapi melihat syair sebuah lagu yang ditampilkan sebagai latar, mata gw terbelalak. Penggalan lagu ini pernah dipakai pada tahun 2013 oleh Amang Sagala dan Bang Toman ketika menjalankan tugas mulia sebagai penyambung benang yang putus. Gw yang tidak pernah mendengar lagunya terang saja bengong-bengong sepanjang jalan pulang setelah survey dari Balige ke Parapat ke Balige. Nadanya bagus deh. Dan gw baru mendengar secara utuh lagunya serta tahu judulnya lima tahun kemudian dari drama musikal Hasian ini. Malangnya gw. Hahahaha….

Gw suka lagu ini versi Voice of Indonesia. Sayangnya mereka tidak bikin album di Spotify. Gw simpan lirik lagunya di sini ya. Gw belum dapat terjemahannya. Ntar deh nodong siapa gitu yang lebih fasih buat mengartikan syairnya. Intinya sih tentang seseorang yang emosinya acakadut karena kekasihnya jauh darinya. Btw, serius nanya nih. Ada ndak sih albumnya Nahum Situmorang yang digarap dengan serius? Bang Rio Silaen gada niat nih bikin? Hahahaha… aku lempar ide nih Bang. Sayang kali sudah latihan tak direkam. Hitung-hitung Abang memperkenalkan kepada generasi muda Batak bahwa wawasan musik Oppung Nahum ini patut disejajarkan dengan Freddie Mercury, setidaknya buatku. Kalok Abang jadi rekaman, jangan lupa tuliskan ucapan terima kasih untukku karena sudah kasih ide ya, Bang. Hahahaha….cem kenal aja pun. Udah ah…nyanyi yuks.

Ala Dao

Di huta na ribur pe ahu ito
Sai tongtong do ahu ito
Lungun-lungunan
Di tiur ni ari pe ahu ito
Sai tongtong dadap-dadap
Lao mardalan

Maccai accit jala bernit
Maccai porsuk jala dangol
Parniahapan
Ala dao, ala dao, ala dao
Ho ito sian ahu

**
Di las ni ari pe ahu ito
Sai tongtong do ahu ito
Sai nangalian
Di ngali ni ari pe ahu ito
Sai tongtong pual-pualhon
Di bagasan

Maccai accit jala bernit
Maccai dangol jala porsuk
Parniahapan
Ala dao, ala dao, ala dao
Ho ito sian ahu

Borngin nai ale ito
Na jolo tangis asa modom
Haholongan
Manogoti ale ito
Da hehe ahu hasombomon
Hasudungan

Mardalan ahu dadap dadap
Da rohangki lalap-lalap
O… inonge, O…. amonge
Amang dangol nai

Beha ma roham di ahu ito
Unang pasombu ahu ito
Lungun-lungunan

Asi ma roham di ahu ito
Da unang loas ahu ito
Dihaholongan
Sarihon ahu sarihon ahu sarihon ahu
ale ito na di haholongan
Tibu ma ro tibu ma ro tibu ma ro
Ho ito tu ahu

 

Psttt…..kalok ada salah tulis, jangan marah kelean yak. Awak pun dapat nyonteknya dari google.

 

 

 

OMG…OM PMR!!!

Seminggu kemarin rasanya otak blank aja. Paduan lega karena Sekolah Alkitab Liburan berjalan dengan lancar tapi badan g bohong kalau stok nyawa yang tinggal 3 ini hilang setengah menghadapi 62 anak pra-remaja Yang menggila setelah selesai UKK selama 2 hari 1 malam. Tapi leganya tidak bisa lama-lama karena masih ada Kebaktian Padang yang diperkirakan akan dihadiri 156 anak batita – 5 SD. Jadilah akhirnya stress lagi. Hahahaha…

Ditambah lagi gusi yang bermasalah ini denyutannya merembet sampai kepala. Bikin gw irit bicara, senyum dan mager parah. Padahal Sabtu kemarin harusnya janjian kumpul jam 6 untuk persiapan Kebaktian Padang. Gw jam 3 lewat masih digoda kantuk di atas kasur sambil liat YouTube. Dan entah mengapa akhirnya tertarik dengan satu videonya Hai Magazine yang berjudul OM PMR – Too Long To Be Alone. Gw klik karena penasaran liat 6 bapak-bapak tua dengan baju hitam + alat musik mulai dari suling sampai ketipung.

Dan setelah gw buka, alhasil gw ngikik sendiri dengar lagunya. Sabtu malam gw tunjukkin ke Tatak Eaaa komennya cuma, “Anjir, pedih kali Mak!!”. Minggu sore kasi liat ke Bons, dia ngakak hebat sambil ikutan nyanyi.

Dan OM PMR alias Orkes Moral Pengantar Minum Racun ini berhasil meracuni otak gw dengan syair lagunya. Padahal versi asli dari Kunto Aji gw tolak-tolak karena ilfil  denger anak remaja nyanyi lagu itu dengan tampang melas karena belum punya pacar. Lah…gw aja yang pernah menjomblo hampir 25 tahun g melas amat. Sekarang aja yang berasa ngenes. Hahahahaha….

Kalau mau ikutan ngetawain hidup, monggo liat link-nya di sini. Peringatan: kalau punya bakat baper atau lagi dalam kondisi depresi dilarang dengar lagu ini sendirian.