Ada Apa Dengan Madu Uray?

Gw udah setahun ini mengkonsumsi Madu Uray. Kenalnya dari Kung yang tiba-tiba bawa pulang botol kaca mirip botol sirup sambil bilang, “Ini madu hutan produk Indonesia. Asli.” Punya adik yang kerjanya akrab sama Kementerian Lingkungan Hidup ya gitu deh, secara tidak langsung mirip kek Engkoh Alim Markus berduet dengan Tante Titiek Puspa yang udah lama g muncul di tivi ngomong, “Cintailah ploduk-ploduk Indonesia.” *senyum lebar*

Kalau di IG-nya Madu Uray terkenal dengan #honeylemonshoot yang ternyata turut dipopulerkan oleh Mbak Andra Alodita, kalau gw sih yang hidupnya sudah asam tanpa lemon menggunakan Madu Uray untuk teh hitam rempah. Gampang kok bikinnya:

  • 1 sendok teh Teh Hitam
  • 2 sendok makan Madu Uray
  • 1/2 sendok teh Bubuk Pala
  • 1/2 sendok teh Bubuk Kayu Manis
  • 500 ml air mendidih

Dan kalau lagi flu tinggal tambah jahe geprek seukuran jempol tangan. Atau kalau merasa butuh anti-inflamasi maka tinggal tambahkan 1/2 sendok teh kunyit. Maka gw hidup bahagia selamanya jadilah teh ini sebagai senjata ampuh mengusir setan angin yang suka sekali mampir ke badan yang cuma selembar ini.

Kenapa nge-teh? Mungkin faktor kebiasaan ya. Sejak kecil sepertinya tugas gw adalah bikin teh 2 kali dalam sehari. Pagi untuk bokap dan nyokap, lalu sore untuk semua orang yang ada di rumah. Lalu kenapa ditambahi Pala dan Kayu Manis? Selain untuk aroma keduanya punya banyak manfaat kesehatan, terutama sih untuk pencernaan, memberi rasa hangat di badan serta menjaga suara gw yang seperti TOA membahana ini terjaga vitalitasnya. Sebenarnya lebih enak kalau teh dan rempah-rempah dari versi aslinyanya direbus baru ditambahkan madu. Tapi demi kepraktisan tak apalah pakai versi bubuk.

Selain itu gw juga suka pakai madunya untuk masker wajah dan rambut. Untuk masker wajah tinggal campur 1 sendok teh Bubuk Kayu Manis + 1 sendok teh Bubuk Pala + 1 sendok teh Kunyit + 1/2 sendok teh Madu Uray + 1/2 sendok teh Extra Virgin Olive Oil/Virgin Coconut Oil (tergantung apa yang lagi ada). Ini termasuk resep masker mingguan yang membantu banget menghilangkan bekas cacar di wajah dan bikin bedak awet nempel seharian. Kalau untuk masker rambut pakai 1/2 sendok teh Madu Uray + 1 kuning telur + 2 sendok makan Extra Virgin Olive Oil. Madu Uray-nya kalau untuk wajah dan rambut dikit aja cukup karena memang kental sekali plus medit. Ahahahaha…..

                                                           Masker Rambut

 

Nah, minggu lalu gw kehabisan si Madu Uray ini. Cari-cari di website resminya habis, lalu hunting beberapa lapak online kok harganya ngeri banget ya? Iseng-iseng akhirnya hari Minggu kemarin sama Pak Keriting niat banget nyari ke Ranch Market. Tujuan pertama ke Lotte Shopping Avenue Kuningan ternyata kosong. Pantang menyerah mampir ke Ranch Market dan Food Hall di Grand Indonesia juga ternyata kosong. “Masih Pak, tapi belum masuk dari distributornya.”, penjelasan dari mbak-mbak staff yang nimbrung dengar obrolan gw dan Pak Keriting yang mengeluarkan hipotesa bahwa Madu Uray sudah tidak jualan lagi makanya harga di lapak online gila-gilaan. Pak Keriting yang baik hati pun berulang-ulang menawarkan madu lain yang tersedia yang dengan cepat gw tolak-tolak pula.

Lemah lunglai karena pegel keliling GI dan sadar bahwa teh hitam rempah ini sudah jadi kebiasaan setiap hari maka akhirnya gw dan Pak Keriting terpekur menatap layar hp masing-masing dan akhirnya dia berkata, “Dari tokopedia ada nih, harganya paling murah. Mau ya?” Maka jadilah hari ini gw menyambut kedatangan sebotol besar Madu Uray dengan bahagia.

Ngeteh yuk…..

Ke Senen, Yuk!

“Baju lo lucu. Beli dimana?”
“Dek, bajumu minggu lalu itu merk apa? Bagus deh!”

Dan reaksi gw kalo ada yang ngomong begitu adalah senyum-senyum bahagia saja tanpa menjawab. Menciptakan kesan misterius – haish! Tapi pengalaman menunjukkan reaksi orang sangat bervariatif setelah tahu baju-baju yang gw pakai dengan bangga itu asalnya dari Senen. Mulai dari mengernyit aneh sampai minta diajak kalau mau ke sana lagi. Btw, Senen yang gw maksud itu Pasar Senen ya bukan Senen Jaya apalagi Atrium Senen.

“Hari gini  ke Senen?“

Oh…pastinya! Kapan lagi bisa menyalurkan emosi, tenaga, dan juga keahlian berbelanja dengan sistem serauk gopek dan keluar dari sana dengan muka kucel berbinar bahagia? Itu hanya bisa anda dapatkan di Senen, kakak. Percayalah! Saya penikmat Senen sejak….sejak kapan ya? Sejak masa lulus kuliah dan jadi asisten dosen yang gaji ya salam tapi butuh guyuran motivasi untuk muncul dengan wajah ceria di kelas yang isinya paling cuma sebiji dua biji junior cakep. Sempat hilang bertahun-tahun, lalu kembali muncul sejak gw memegang KTP DKI dan kemudian menjadi candu sejak makin ikrib sama Miss G. Dan itu terjadi karena percakapan di atas. Waktu Grace tanya baju gw beli di mana, gw masih senyum-senyum aja. Waktu udah makin akrab sama Tatak Eaaa ga tau siapa yang duluan disclosure sebagai penikmat barang-barang flea market, dan…..seperti tiba-tiba ada musik dari Surga yang bergema karena kami kemudian saling menatap dengan mesra kemudian berpelukan erat. Gw dan Tatak Eaaa resmi menjadi rekan sejiwa. Perjalanan pertama menjelajahi flea market gw belum berani bawa Tatak Eaaa dan Grace ke Senen, takut mereka shock. Jadilah gw bawa ke Metro – Pasar Baru. Modal nekat karena sebenarnya gw juga belum pernah ke Pasar Baru. Hasilnya, Grace pulang bawa celana yang kemudian harganya di-mark up 10x lipat untuk di-reimburse ke papinya. Mereka berdua sih puas, tapi gw merasa harganya mahal banget dan abang-abangnya susah buat ditawar.

Maka mulailah gw menantang mereka kepada petualangan yang sebenarnya yaitu SENEN. Dan berakhir dengan terciptanya tiga anak cetan – sering madol kerja –  dengan alasan sakit –  tapi seharian menjelajah Senen – sepanjang tahun 2016 lalu. Aku mahluk hina.

“Tapi kan Senen baru kebakaran?”

Nah… karena itulah Rabu kemarin, gw membajak Bons yang minta ditemenin ke Toko Buku BPK Gunung Mulia di Kwitang untuk mampir ke Senen. Dengan misi mulia, menemukan tiga sekawan Aliado cs. Engga jelas juga sih nama aslinya siapa. Kadang ngaku Danil, Alex, Aliando lain waktu ngakunya  Hendra, Aliando, Eduardo. Entah ada apa dengan Aliando. Dan entah siapa pula dari mereka bertiga yang nekat mengaku sebagai Aliando. Kami tidak perduli, setidaknya sudah tau aja mukanya yang mana. Mereka adalah abang-abang langganan kami yang baik hati yang membiarkan segerombolan perempuan bawel ngedeprak indah di lapaknya sambil malakin minta dibelikan Aqua dingin, tahu goreng dan Momogi dan kemudian sabar menghabiskan waktu 20 menit berantem dengan Tatak Eaaaa untuk nego harga. Waktu dengar Senen kebakaran mereka bertiga yang kami cemaskan. Takut kehilangan tempat belanja favorit.

Pasar Senen setelah api padam – Sumber: Google

Jadilah Rabu Siang gw dan Bons menyusuri tempat parkir dekat ATM, clingak-clinguk sepanjang lapak-lapak kecil darurat memperhatikan wajah abang-abang yang berdiri berusaha menggodai dengan melucu khas abang-abang Senen di tengah fenomena Equinox yang bikin panasnya matahari makin jumawa. Yang pertama ditemukan adalah si Danil yang membuat gw dan Bons prihatin. Dia menjadi kurus, hitam dan tiba-tiba pinter ngomong. Serius, lancar jaya ngomongnya. Biasanya dia beraninya cuma senyum malu-malu lalu melipir ke depan menyerahkan kami pada Alex untuk urusan tawar-menawar harga.  Danil ini dulu dicurigai kalau beli baju langsung selusin sama semua. Soalnya ‘baju dinasnya’ setiap kami datang adalah kaus warna hijau peach pastel dengan celana panjang jeans overall.  Dari Danil kita dapat lokasi Aliando. Aliando ini yang kekeuh untuk menggebet Bons walaupun suka lupa namanya siapa. Dan Aliando ini yang pernah gw tembak dengan bilang, “Lo beler amat sih! Udah bangun belum? Cuci muka dulu sana.” Dan dia curhat kalau dia mau masuk Lido untuk ikutan rehabilitasi. *terharu* Nah, Aliando inilah yang kemudian kasih tau posisinya Alex ada di mana. “Di penampungan sementara, lantai 3. Kalian keluar aja, belok kiri. Itu Blok III sebelum Senen Jaya. Di lantai 3 tanya aja Alex dimana.”

Maka lanjutlah dua anak gadis berjalan menelusuri trotoar di bawah payung hitam mencari jejak ala Dora. Blok III itu yang banyak jualan kue-kue di depannya. Yang bangunannya mirip sekolahan. Ada penandanya juga kok tepat di pintu masuknya tertulis keterangan tiap lantai isinya apa saja. Gw dan Bons naik dari tangga yang dekat dengan eskalotor Senen yang lama. Naik ke lantai 3, lapaknya lebih besar sedikit dari  yang di parkiran.

Nah….di bangunan yang terlihat inilah terdapat Tempat Penampungan Sementara Pedagang Pakaian Senen – Sumber: Google

Dua kali keliling muka Alex engga kelihatan. Sudah pasang telinga coba dengar suara-suara siapa tau dia teriak-teriak ganas, gada juga. Sudah lelah karena kepanasan, gw sempat bilang Bons kalau ga ketemu juga mari menyerah saja.  Akhirnya ngeh, ada satu lorong yang belum dilewatin dekat tangga pertama kali kami masuk. Dan…..di situlah Si Alex bersemayam di balik kayu yang menopang setumpuk dress sambil makan sate. Terpujilah Tuhan!

Alex ini sepertinya memang koncian kalau ke Senen. Setelah ketemu dia, langsung kelihatan dress yang digantung di lapak itu bagus-bagus. Padahal dua kali mutarin lantai 3  berasa gelap dan redup semua baju. Hahahahah….Ternyata lapaknya dia di sebelahnya. Maka gragas lah gw dan Bons ngacak-ngacak kedua lapak itu. Selesai makan, si Alex lanjut sortir dua karung bajunya. Mungkin karena dia juga bahagia ketemu kita berdua, gw didaulat untuk ikutan bongkar. Serius, itu gw hampir nyelam ke dalam karungnya. Paduan kalap sama bahagia. Sedangkan Bons, entah apa yang terjadi tiba-tiba gw mendengar Alex cerita kalo dia sekolah sampe SMP doang karena bokapnya udah gada sejak dia kelas 6 SD. Si Alex cerita kariernya mulai dari tukang sayur, loncat jadi supir angkot, lalu nekat datang ke Jakarta dari Serang mengadu nasib. Tadinya dia jagain lapak jas. Karena dia rajin, diliriklah dia sama toke yang punya barangnya ini sekarang. Jadi  17 tahun sudah dia jualan di Senen dan menghasilkan dua rumah dan dua mobil. Rumahnya masih di Serang. Dia bawa mobil sendiri sambil narik omprengan buat orang-orang yang kerja ke Jakarta setiap pagi. Sambil gw misah-misahin baju yang potensial untuk kemudian Bons sortir lagi sambil dia duduk indah di tumpukan baju gocengan, Alex sempat-sempatnya nunjukkin foto keluarganya.  Dan ternyata si pemuja Bons yang mengaku namanya Aliando itu adalah adik kandungnya Alex yang bernama Hendra. Hahahahaha….

Trus gimana  suasana di sana?”

Well, it is Senen, cuy. What do you expect? Kabarnya mereka akan dipindahkan ke Blok V dalam 6 bulan lagi. Dan menurut Alex, Blok V nanti akan seperti Senen Jaya. Dan respon gw cuma, “Yah…nanti makin mahal dong harga barang lo.” Oportunis banget ya?

Kalau di Tempat Penampungan Sementara yang di Lantai 3 Blok III ini ya… masih panas. Gedungnya benar seperti sekolahan. Pakai atap seng dan hanya dilapis terpal dari bagian dalam, tanpa dek pula. Tapi bau dekil pengap khas Senen yang lama sudah tidak terlalu kental lagi. Mungkin karena dapat cahaya dan panas matahari yang cukup.  Alex mengaku berpisah dengan dua rekan kerjanya untuk memudahkan pelanggannya yang lama berbelanja dengan lebih nyaman dan supaya barang tidak cepat rusak kena panas dan hujan. Si ibu-ibu latah sesama pedagang tetangga lapaknya Alex masih ada. Yang tidak ada mbak-mbak latah penjual minuman dingin dan Momogi. Tapi tenang saja, masih ada kok yang jualan minuman dingin. Walaupun harga HydroCoco yang kecil dijual seharga ukuran besar di Indomart. Kzl!

Musik dangdut masih diputar kencang-kencang. Tapi kemarin suara teriakan para abang-abang tidak banyak terdengar. Mungkin karena masih sepi pengunjungnya. Tapi dagangannya sudah variatif kok. Ada yang jualan tas, syal dan scarf, pakaian pria termasuk jas, pakaian anak-anak bahkan baju renang dan underwear juga ada.

“Jadi, kesimpulannya?”

Gw dan Bons keluar dari sana jam 6 sore bawa 5 dress dan 12 atasan dengan total damage Rp 375.000,- saja. Benar-benar serauk gopek bukan? *senyum cemerlang* Kita sama-sama dapat kemeja lengan panjang merk Uniqlo yang bahannya linen yang kondisinya masih sangat prima. Barusan gw cek ke pake nomor serinya keluarlah Women Premium Linen Long Sleeve Shirt. Monggo cek sendiri harganya berapa ke counter-nya. Gw dapat atasan merk TopShop yang masih baru yang rencananya akan gw hibahkan ke Mak Wiwish karena ukurannya besar. Dan gw berhasil membujuk Bons ngambil atasan Zara Travelista yang juga masih prima. Kebanyakan barang yang gw bawa pulang bahannya linen termasuk dress yang roknya model tulip ala Kim Kardashian. Itu masih hasil menjarah dua lapak saja. Masih ada beberapa abang-abang teman berantem Tatak Eaaa lagi yang belum didentifikasi keberadaannya, yaitu abang penjual sweater & cardigan, abang penjual kaos, sama abang penjual celana. Jangan sampai patah semangat karena omset penjualannya turun. Hahahaha….. Jadi, main ke Senen yuk!

Gw ambil yang ini – Sumber: www.uniqlo.com
Bons ambil yang ini – Sumber: www.uniqlo.com

Rumitnya Jadi Laki-Laki #1: Balada Menemukan Jas Impian #2

Hello word!

Lanjut ya cerita membantu Mr. Kriting menemukan jas impiannya.

Kenapa akhirnya gw kasih rekomendasi Mr. Kriting untuk beli jas daripada jahit?

  1. Rate penjahit jas populer di Jakarta kok harganya bikin sesak nafas ya?
  2. Penjahit yang tidak populer tapi direkomendasikan sama teman-teman, rate-nya  ndak lebih dari 1 yuta tapi kok ndak yakin ya akan selesai sempurna dengan sisa waktu 1 bulan?
  3. Pengalaman teman-teman beli kain buat bahannya aja harga di atas 1 yuta. Sementara budget Mr. Kriting 1 yuta-an all in yang setelah dikonfirmasi maksudnya IDR 1.050.000,- bukan IDR 1.999.000,- .
  4. Meskipun agak buncit dikit, tapi posturnya Mr. Kriting masih proporsional. Dan berharap dengan fitting jas berkali-kali memberi tekanan untuk Mr. Kriting mewujudkan semboyan gw ‘Abang Ganteng, Adik Senang’

Nah, karena itulah gw berani melempar ide beli jas jadi aja. Trus beli di mana dong? Gw tinggal di Jakarta ya, jadi ini beberapa tempat yang sudah didatangi baik oleh Mr. Kriting saja ataupun yang gw temani.

BBI (Bina Busana Indonesia) – Kawasan Industri Pulogadung

Mr. Kriting sering belanja kemeja di sini bareng adiknya. Sayangnya gw ndak  ikut temani dia ke sini karena paginya dia keliling dulu antar bahan seragam kebaya buat keluarga besarnya. Padahal penasaran juga mau lihat tempatnya dan barang-barangnya. Gw yang rekomendasikan tempat ini karena ada blogger yang bilang di sini jual jas juga. Di kemudian hari Mr. Kriting bilang dia coba banyak merek jas di sini, hanya yang dikirim fotonya ini saja.

IMG-20160109-WA0013

Mereknya Geoffrey Beene. Harga tidak diberitahukan. Warna hitam. Laporan pandangan matanya menyatakan bahwa setelan jas yang tersedia dari berbagai merek  hanya warna hitam saja. Yak, kesalahannya cukup fatal ya. Fitting tanpa menggunakan kemeja yang akan dipakai, pula tidak disertai dengan celana pasangannya.  Tambah lagi fotonya terlalu gelap jadilah gw malah balik bertanya, “Kesempitan engga? Kok keknya nahan napas banget ya?” Dan berharap pria bisa menjawab deskritif itu adalah suatu kesia-siaan, sebab jawabannya, “O..belahan di belakangnya belum di buka.” Gubrak!!  Dan ditengah-tengah perjuangan mengendalikan diri dengan sumbu kesabaran yang semakin pendek, masih diuji dengan ide, “Sayang, jas hitam celana abu-abu lucu juga ya.” Tidaaaak!!!

ITC Kuningan 

Dapat infonya dari seorang sahabat yang menemani pacarnya beli jas pengantin di sini.  Sahabat gw ini mengikuti jejak sahabatnya juga yang memilih membeli jas jadi untuk acara pertunangan dan pernikahannya. Karena sahabat gw lupa nama tokonya akhirnya semacam mencari jejak ala Dora dan Boot dengan petunjuk:

"Di lantai yang sama dengan A&W, dekat lift kapsul penumpang, nanti ada toko isinya jas dan dasi. Untuk renov di Lantai 2 nama tokonya Qii Qiu"

Dan ketika pesan tersebut diteruskan ke Mr. Kriting dan adiknya, mereka berakhir dengan mutar 3x di lantai tersebut tanpa mendapatkan hasil apa-apa. Memang mamak harus turun tangan urusan belanja. Minggu depannya gw ikut ke situ. Dari parkiran mobil yang ketemu duluan Lantai 4. Fokusnya langsung mencari toilet dong. Hahahaha! Sementara Mr. Kriting masih di toilet, gw bajak adiknya lihat toko yang dekat eskalator pas seberang-seberangan dengan toko yang jual perlengkapan bayi. Maafkan, gw lupa nama tokonya.

Pilihan jasnya lumayan banyak. Ada juga yang bahan wool, tapi ukuran besar-besar banget. Kalau yang slim fit atau reguler kebanyakan bahannya campur-campur.  Semuanya made in china. Ada satu yang gw naksir banget, sayangnya ndak gw foto. Mr. Kriting langsung pas dengan jasnya. Warna biru pula, meskipun kainnya bercorak. Gw minta dia coba sekalian celananya. Disinilah kesulitan muncul. Fitting room di ITC itu memang hanya cocok untuk perempuan dengan BMI underweight kek gw. Mr. Kriting bukan perempuan dan buncit pula artinya tidak mungkin dia underweight kan? Mana posisi fitting room-nya yang merupakan sebuah kotak dengan ditutupi sehelai horden itu dekat dengan jalanan (jalanan di lorong ITC ya, bukan jalan raya). Mr. Kriting yang sungguh berbudi pekerti luhur itu merasa malu membuka celana ditempat kurang beradab seperti itu. Meskipun berkali-kali gw bilang itulah ajian penglaris para pedagang ITC, dia memaksa minta mencoba di toilet. Mbak-mbak penjaganya menolak mentah-mentah ide Mr. Kriting. Kami hanya bisa cemberut. Lalu keluar.

Maka kamipun mulai membaca petunjuk dari sahabat gw. A&W  itu di LG. biar ringkas langsung naik lift penumpang saja. Dan taaadaaa….. begitu pintu lift terbuka bercahayalah sejumlah jas dari satu toko yang tak bernama. Di sini mbak-mbak penjaganya lebih ramah. Entah kenapa Mr. Kriting pun bisa lebih leluasa mencoba celananya meskipun fitting room-nya juga menghadap lift. Produknya sebenarnya sama saja dengan di Lantai 4, tapi disini lebih banyak jenisnya. Ada satu jas warna abu-abu gelap bermotif kecil-kecil yang gw taksir. Sayangnya itu ndak satu pasang, jadi ya tidak dilanjutkan mencoba. Gw masih naksir sama jas yang sama persis dengan yang di Lantai 4, tapi sayangnya bagian celananya pasaknya terlalu lebar. Kalau dengan infografik di posting sebelumnya lihat di the seat, kolom too big. Memang harus diperbaiki sih. Lagian semua celana di situ, bagian bawahnya belum dijahit untuk memudahkan menyesuaikan tinggi badan pembelinya. Mbak-mbaknya sarankan ke Lantai 2 saja, karena memang khusus penjahit jas. Tapi berhubung adik Mr. Kriting tidak menemukan jas yang sesuai (postur badannya bahu hampir sama lebarnya dengan pinggul) dan Mr. Kriting belum sreg dengan motif kainnya yang menurutnya terlalu berkilau (lagi-lagi, kami memang beda aliran T.T), akhirnya tidak jadi ambil. Dan mbaknya pun menarik senyumnya.

Secara keseluruhan gw rekomendasikan toko tak bernama di Lantai LG ITC Kuningan ini. Harganya untuk yang satu pasang berkisar antara IDR 800.000,- s/d IDR 950.000,- Tempatnya lebih luas, dan mbak-mbaknya lebih ramah. Ada jual kemeja dan dasi juga kalau mau sekalian ambil.

Kalau masih semangat, bisa juga keliling di sekitar toko tak bernama itu. Banyak juga yang jual jas. Tapi tetap toko tak bernama itu juaranya. Karena selain bahannya lebih bagus, modelnya dan ukurannya pun jauh lebih banyak. Selamat mencoba berbelanja jas ya.

Tenang saja, cerita ini akan berlanjut sampai Mr. Kriting menemukan jas impiannya.