Curriculum Vitae Rasul Paulus

Ini harusnya late post deh. Soalnya gw bikin CV Paulus ini untuk lembar aktivitas anak-anak di bulan November. Perikopnya waktu itu dari 1 Korintus 15:10 yang berbunyi,

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Perikop yang begini inilah yang suka bikin gw misuh-misuh, garuk tembok lalu guling -guling nangis di tanah. Ayat ajaib yang keluar sendirian, tanpa pengantar di minggu lalu dan tanpa kelanjutan di minggu depan. Sementara gw dulu waktu mahasiswa belajar tentang Profesor Paulus ini bertahun-tahun lewat PA dan eksposisi Bible Study di Persekutuan Jumat, retreat dan Persekutuan Mahasiwa Kristen Jakarta. Bagaimana coba anak-anak bisa paham kenapa Prof. Paulus tiba-tiba bisa nulis kek di atas?

Waktu itu engga tau juga dapat ilham dari mana untuk bikin CV. Lihat lagi history WA gw sama Babang Octa, gw langsung bilang, “Kan sambil latihan liturgi tuh di kelas. Aku kepikiran anak-anak aktivitasnya bikin CV Paulus.” Format CV-nya gw contek dari format CV punya lembaga-lembaga PBB dan gw kombinasikan dengan format lembar isian calon pegawai salah satu lembaga swadaya masyarakat yang bernilai Kristiani. Hahaha…. Jadi ya, lumayan cepet bikin lembaran aktivitas ini.

Gw dibantu oleh Ensiklopedia Alkitab untuk dapat ayat-ayat pendukungnya. Ini sebenarnya salah satu contoh PA deduktif nih. Para Navigator termasuk penganut metode PA ini dan syukurnya gw pernah dibina sama Navigator juga. Jadi hepi-hepi saja memperkenalkan metode PA seperti ini secara tidak langsung kepada adik-adik pra-remaja. Biar kaya wawasan mereka karena dipaksa membaca Alkitabnya dengan lebih teliti. Dan terbukti, anak-anak yang fokus ngerjain tanpa banyak ngobrol bisa kerjakan sampai selesai kok. Karena kan tinggal nyontek dari Alkitab. Mereka banyak yang bertanya, “Arti kanonisasi itu apa sih, Kak?”

Ketika memeriksa hampir 70 lembar kerja ini, gw merenungkan betapa lembutnya panggilan pertobatan Paulus. Coba deh bayangkan, Saulus yang waktu itu sedang berkobar-kobar semangatnya untuk menjaga kemurnian ajaran Taurat yang dipelajarinya hingga level Farisi, sampai minta legalitas dengan Surat Kuasa dari Imam Besar untuk menganiaya dan membinasakan murid-murid Tuhan Yesus! Pastilah murid Gamaliel, seorang  ahli Taurat yang terpandang hingga Makamah Agama pun meminta nasihat darinya, mengerti betul arti Hukum Taurat yang berbunyi jangan engkau membunuh. Tapi bayangkan, Saulus yang khatam Hukum Taurat, mengerti prinsip mata ganti mata dan gigi ganti gigi pada masa Perjanjian Lama; sampai rela melanggarnya baik lewat keputusannya menyetujui Stefanus dirajam sampai mati maupun dengan tangannya sendiri yang dengan ganas memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan untuk dimasukkan dalam penjara.

Dengan semangat seperti itu, ia pergi ke Damsyik berupaya menyebarkan teror yang lebih besar bagi pengikut Kristus. Dan tiba-tiba ketika sudah dekat dengan kota Damsyik, ada cahaya terang yang mengelilingi Saulus yang mungkin karena sangat menyilaukan matanya akhirnya memaksanya untuk rebah ke tanah. Tak henti di situ, kemudian ada suara yang menyapa namanya dan bertanya, “Mengapakah engkau menganiaya Aku?”. Gw membayangkan pastilah saat itu Saulus sangat kebingungan. Pertanyaan ini sepertinya salah alamat. Tapi kebingungannya tidak menghentikan akalnya yang sepertinya menyadari pastilah suara itu dan cahaya terang itu merupakan perwujudan dari sesuatu yang lebih besar daripada dunia ini. Sehingga ia mempertanyakan Tuhan yang manakah yang sedang menjumpainya. Dan suara itu memperkenalkan diriNya sebagai, “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.”

Kisah Para Rasul 9 memang tidak mencatat apakah suara itu bergema sedahsyat cahaya terang yang membutakan matanya? Miripkah dengan volume speaker KKR 10.000 jiwa ataukah hanya sayup-sayup yang terdengar di telinga Saulus saja? Tidak dicatat pula bagaimana intonasi suara itu. Marahkah? Bentakan? Setengah terisak seperti menahan tangis? Tapi kalau boleh gw membayangkan situasinya, sepertinya pertanyaan itu dilontarkan dengan suara lembut dan intonasi seorang bapa yang menyayangkan mengapa anak kesayangannya melakukan hal yang salah. Pertanyaan yang berisi pernyataan fakta serta ungkapan hati Tuhan Yesus yang sangat personal kepada Saulus, engkau menganiaya aku.

Panggilan pertobatan yang lembut inilah yang diingat terus oleh Paulus  dan diceritakan dalam suratnya kepada anak rohaninya, Timotius dengan, “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Timotius 1:15)

Gw pribadi ditampar-tampar dengan perenungan apakah gw cukup memberi telinga dan hati untuk mendengar suara lembut Tuhan memanggil gw bertobat setiap harinya. Honestly beberapa waktu terakhir ini, logika gw yang lebih main untuk mencegah atau mengevaluasi kenapa gw harusnya tidak melakukan dosa. Gw lihatnya lebih ke, “Eh…rugi loh kalo lo bikin gitu. Entar konsekuensinya begini nih.” Bukan lagi karena, “Eh, Tuhan itu kudus loh. Dosa bikin lo g nyaman deket-deket Tuhan.”

Kalau dihubungkan sama kondisi bangsa dan negara saat ini, Saulus ini gambaran banyak orang dan organisasi massa terkini bukan? Demi menegakkan kemurnian ajaran agama, sampai merampas hak Allah untuk menghakimi manusia. Kalau dulu John Lyly bikin quote terkenal all is fair in love in war, kalau sekarang boleh g gw tambahin jadi all in fair in love in war in religion? Hahahaha…maksa! Balik ke kondisi bangsa dan negara sekarang, bolehlah kita banyak-banyak berdoa supaya Saulus-Saulus masa kini apapun agamanya  mendengar dan merespon panggilan Allah untuk bertobat.

Dan memeriksa tulisan hampir 70 anak ini pula yang membantu gw memenangkan hadiah hiburan Kuis Alkitab di acara Bonataon keluarga dari pihak Momzie. Pertanyaan berapa jumlah kitab yang ditulis Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru, gw jawab tanpa ada saingan. Lumayaaaaan…..pulang-pulang dapat tambahan satu kaos. Hahahahaha…..

 

 

One thought on “Curriculum Vitae Rasul Paulus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.