Evaluasi Aktivitas Kelas “Surat Kristus Yang Terbuka”

Sabtu malam kemarin setelah lelah membersihkan rumah dari atas ke bawah dan batal tidur siang karena jadi terlibat diskusi serius dengan Babang Octa untuk membicarakan aktivitas di kelas, malamnya gw akhirnya periksa Kartu Pos anak-anak. Oh ya, gw ceritakan dulu bagaimana pelaksanaan kegiatan mengisi Kartu Pos ini ya.

Jadi setelah masuk kelas tiga minggu yang lalu, kami biasanya memulai dengan doa yang dipimpin oleh Anak Sekolah Minggu. Gw minta anak yang minggu lalu memimpin Doa Penutup untuk menunjuk satu anak lawan jenisnya, lalu anak tersebut harus menunjuk satu anak lawan jenisnya untuk Doa Penutup. Tujuannya adalah untuk melatih anak-anak berani berdoa di depan umum dan juga memaksa mereka untuk mengenal nama teman-teman lawan jenisnya. Biasa, anak SMP kan sudah mengenal mana muhrim dan bukan muhrim. Sama yang bukan muhrim macam takut ketularan panu kalau bersenggolan. Ahahahahaha….

Lalu setelah itu review:  apa ayat yang dibahas dalam kotbah? Apa inti kotbah yang mereka dengar? Sampai bagian ini mereka bisa menjawab dengan lancar. Lalu gw bertanya, adakah yang pernah berkirim surat? Jawabannya tidak pernah. Adakah yang pernah menerima surat? Hampir semua pernah, surat pemberitahuan dari sekolah. Ahahahaha….. Lalu gw pancing dengan pertanyaan, apakah pernah mendengar tentang surat terbuka, yang tidak menggunakan amplop yang mudah dibaca oleh orang-orang yang melihatnya? Dari sini jawaban mulai ngaco. Wesel, surat pos, giro, edaran, pengumuman, selebaran. Gw mulai sakit kepala. Akhirnya frustasi kemudian bertanya: adakah yang pernah mendengar tentang Kartu Pos? Ribka yang konsisten duduk di barisan belakang setiap minggu misuh-misuh ngomong: “Tadi aku bilang Kartu Pos. Kakak g denger.” Maaf dek, Kakak memang punya gangguan pendengaran sedikit. Ahahaahahaha….

 

Lalu setelah itu gw dan Babang Octa membagikan Kartu Pos-nya kemudian membimbing mereka untuk mengisi dari bagian yang paling mudah dulu, yaitu bagian penerima. Gw meminta mereka untuk menuliskan nama lengkap dan alamat lengkap rumah mereka. Gw tanya: biasanya kalau untuk surat-menyurat alamat lengkap itu harus ditulis sampai apa? Mereka bisa menjawab dengan kode pos. Tapi setelah itu bersahut-sahutan pertanyaan: “Kak, kalau tidak tahu kode pos rumah bagaimana?” Gw hanya bisa senyum saja. Setelah bagian itu terisi, gw minta mereka menuliskan nama panggilan mereka di sebelah tulisan Dear ______________. Lalu kemudian meminta mereka untuk memikirkan kira-kira kalau Tuhan Yesus beneran kirim Kartu Pos untuk mereka, apa yang akan dituliskan buat mereka? Hal apa yang kira-kira Tuhan Yesus ingin mereka lakukan supaya orang lain bisa melihat-Nya lewat diri mereka. Gw memberi contoh kalau  Tuhan Yesus kirim Kartu Pos untuk Kakak, tulisannya mungkin seperti ini:

Dear Ceceh,

Kamu adalah suratKu yang terbuka dan mudah dibaca orang lain. Karena itu  Aku minta supaya kamu bijak mengatur waktumu dan bertanggung jawab terhadap tugasmu. Agar orang lain melihatKu lewat hidupmu.

Tuhan Yesus

Gw jelaskan kenapa demikian karena ketika gw mulai bekerja dengan laptop, gw bisa lupa waktu sampai tengah malam dan akhirnya tanggung jawab seperti membersihkan rumah tidak dilakukan. Kemudian gw minta mereka hening satu menit, memikirkan dengan tenang versi mereka sendiri lalu menuliskannya. Salahnya gw tidak minta Babang Octa menyebutkan contoh versinya. Harusnya setelah mereka menuliskan itu, aktivitas dilanjutkan dengan meminta mereka memilih gambar dari majalah bekas untuk ditempelkan di bagian belakang Kartu Posnya. Apa daya, karena waktu di kelas itu hanya sekitar 30 menit saja sementara ada beberapa pengumuman terkait Natal yang harus disampaikan, maka kegiatan menempelkan gambar ini tidak dilakukan.

Maka jadilah Sabtu malam kemarin setelah membaca-baca tulisan mereka, gw merobek-robek lembaran majalah Femina dan Cosmopolitan hibahan dari Kantor Diana dan menempelkannya di 60 Kartu Pos itu. FYI Cosmopolitan banyak gambar perempuan dengan pakaian minim tapi kertasnya lebih tebal. Femina lebih ramah anak gambar-gambarnya, sehingga lebih banyak yang bisa dipakai.

Jadi beginilah tulisan beberapa anak pada Kartu Posnya masing-masing. Semoga mereka senang dengan hasil tempelan gw dan menyimpan ini sebagai pengingat apa yang mereka harus lakukan.

Dan percayalah, ada juga beberapa anak yang mengisinya seperti ini. Huft!!!

2 comments

  1. Bagus sekali ya suratnya. Kalo kartu posnya dikirim ke rumah anak2 pasti lebih seru. Tetap semangat ya kak melayani sahabat-sahabat kecil Kristus. TYM.

    • Terima kasih.
      Sayangnya anak-anak banyak yang tidak bisa menuliskan alamat rumahnya dengan lengkap. Jadi ya dibagikan manual lagi ke mereka. Terima kasih sudah membaca tulisan ini ya. Mari sama-sama semangat melayani anak-anak yg dipercayakan Kristus pada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.