Late Post – GAGAL

Tulisan ini harusnya naik tayang pertengahan April. Tapi karena saat itu server-nya down jadi hanya teronggok begitu saja dalam folder draft. Gw lagi g bisa tidur akibat minum teh tarik sore-sore. Jadi posting ini saja ya.

================================

Beberapa tahun terakhir ini gw terbiasa dengan kegagalan. Sekian banyak pintu yang gw ketuk masih saja tertutup. Ada yang sejak awal dihempaskan di depan wajah gw. Ada yang setelah gw ketuk belum juga mempersilahkan untuk dimasuki.

Malam ini gw kembali bergumul dengan perasaan gagal. Final Assessment hari ini rasanya hanya 50% saja yang gw selesaikan. Itupun hasilnya entahlah. Kenapa? Kurang banyak belajar? Bisa jadi. Manajemen waktu ketika mengerjakan jawabam tidak baik? Bisa jadi. Salah strategi? Bisa jadi. Kurang rasa percaya diri? Nah….itu pun!

Tapi malam ini gw merefleksikan sesuatu. Gw; si anak tengah ini, sejak kecil berusaha memenangkan perhatian orang tua lewat nilai akademik. Dan strategi itu berhasil. Nama gw selalu diumumkan setiap pembagian rapor saat SMP. Waktu SMA nilai gw masih di atas rata-rata. Gw cucu pertama dari garis keturunan bokap dan nyokap gw yang berhasil masuk universitas negeri. Tidak tanggung-tanggung pula, sampai nama negeri ini melekat di almamater gw. Tapi setelahnya gw diharuskan selalu berhasil. Ketika gw gagal, gw yang lebih dahulu jatuh, patah hati bahkan sampai shut down karena merasa sangat bodoh. Gw benci semua kegagalan gw, karena sejak kecil gw tidak merasa mendapatkan unconditional love. Gw merasa satu persatu perhatian dan kepercayaan keluarga berkurang untuk gw.

Malam ini gw belajar, ya gw gagal. Bisa saja pintu ini pun sedang ditutup untuk gw. Tapi yakinlah masih banyak bintang lain di langit yang juga sedang berkelip. Artinya masih ada ratusan impian yang bisa gw inginkan dan kerjakan. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Esok memiliki kesusahannya sendiri.

Malam ini gw hanya ingin bersyukur pada Tuhan. Gw menikmati proses belajarnya. Gw menyadari gw perlu lebih tekun belajar. Pelajaran apa selanjutnya? Hahahaha…..boleh yang bukan akademis g ya, Tuhan?

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.