Perjumpaan Yusuf dengan Saudara-Saudaranya

Sepanjang minggu lalu, gw memfasilitasi sebuah pelatihan hanya berdua dengan peserta 17 orang. Pelatihan yang tujuannya bukan hanya meningkatkan level pengetahuan tapi juga keterampilan terus terang menghisap tenaga karena gw harus observasi penuh. Sampai-sampai Sabtu gw habiskan dengan leyeh-leyeh dengan harapan badan yang rasanya seperti babak belur karena hampir selalu berdiri selama 8 jam setiap harinya, dapat lebih lega. Tapi ya, Sabtu malam gw kembali stress karena memikirkan drama apa lagi yang akan timbul di Hari Minggu. Halah….

Periksa WAG kelas, kok semuanya adem ya. Ndak ada yang tanya besok mau apa. Gw mencoba berpikir positif karena toh sermonnya sudah diadakan 2 minggu sebelumnya. Gw dan Tika bersama-sama dengan rombongan kelas TK sudah sempat membahas rangkaian utuh cerita Yusuf lengkap dengan aktivitas untuk mengenalkan nama-nama 11 saudara laki-laki Yusuf lainnya. Tapi kok terlalu senyap ya? Gw juga sempat bertanya-tanya, kok gada guru kelas lain yang nanya mau nitip perbanyak gambar ya? Akhirnya malamnya gw baru kutak-katik link Pinterest yang gw kirim ke grup GSM, memindahkan ke word dengan ukuran A4 lalu tepat saat pergantian hari, gw memperbanyak lembar aktivitasnya. Untuk peraga gw putuskan mencetak selembar dalam ukuran A3.

Minggu pagi di WAG Sekolah Minggu, Tika memberi info tidak bisa datang karena sakit. Sedangkan satu GSM lagi memberi info tidak bisa ikut sermon karena urusan pekerjaan. Gw berpikir, ok…tidak ikut sermon tetapi tidak juga berinisiatif mempersiapkan diri untuk terlibat dalam pengajaran kelas jadi sebaiknya tidak usah dipaksakan. Maka jadilah gw single fighter memimpin kelas dari awal sampai akhir. Perikopnya dari Kejadian 44: 1-5 mengenai Piala Perak Yusuf yang Hilang.

Tujuan pengajaran yang gw rancang untuk adik-adik Kelas 5-6 SD adalah:

  1. Anak-anak mengetahui kisah pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya
  2. Anak-anak mengetahui nama-nama saudara Yusuf
  3. Anak-anak belajar untuk mengasihi saudara-saudaranya seperti Yusuf

Begitu menyebutkan salam, anak-anak kelas 3-4 SD sudah dengan kompak mengeluarkan suara dari perut dengan segenap tenaga. Lalu dari kelas 1-2 SD terdengar suara kursi berjatuhan. Karena kami hanya dibatasi partisi yang tak kedap suara, maka gw putuskan kami harus juga menyumbang polusi suara dalam bentuk nyanyian. Akhirnya gw ajaklah anak-anak bernyanyi I Want To Be Your Friend lengkap dengan gayanya. Lumayan, dinyanyikan tiga kali cukup membuat anak-anak harus berputar mencari pasangan. Lalu setelah itu gw minta anak yang terakhir memimpin doa menunjuk temannya yang merupakan lawan jenis kelaminnya untuk memimpin doa. Kemarin, Rafael yang dapat anugerah memimpin doa. Setelah itu, gw minta anak-anak untuk membuka Alkitabnya. Kami kemudian bersama-sama membaca perikopnya dengan suara yang kuat.

Karena perikopnya hanya menceritakan mengenai Yusuf memerintahkan agar kepala rumahnya memenuhi karung saudara-saudaranya dengan gandum sekaligus meletakkan kembali uang mereka ditambah dengan menyelinapkan piala peraknya ke dalam karung gandum Benyamin, gw memutuskan untuk menceritakan dengan singkat bagaimana Yusuf setelah dijahati oleh 10 abangnya akhirnya menjadi Mangkubumi di Mesir. Ketika kelaparan sampai ke Tanah Kanaan, maka ke-10 abangnya ini akhirnya berangkat ke Mesir untuk membeli gandum. Yusuf mengenali mereka, tetapi saudara-saudaranya tidak. Gw menceritakannya seperti seorang narrator. Saat dialog antara Yusuf dan abang-abangnya, gw gagal menggunakan suara yang berbeda. Akhirnya gw lebih fokus ke ekspresi tiap tokoh sama gw pindah-pindah posisi untuk menggambarkan tokoh yang sedang berbicara. Di akhir cerita, gw bertanya apa yang dapat kita pelajari dari cerita ini? Igor yang baru gw kenal di kelas ini dengan spontan menjawab: harus memaafkan saudara yang berbuat jahat ke kita, Kak. Lalu yang lain menambahkan, harus sayang sama saudara Kak. Ah…gw bahagia.

Waktu gw tanya, siapa di sini yang sering berantem sama saudaranya; abang, kakak, adik, atau sepupunya? Hampir semua angkat tangan kecuali Keiko yang anak tunggal. Lalu gw tanya lagi, “Siapa yang kalau lagi berantem sama saudaranya tidak mau menegur duluan karena gengsi. Meskipun kamu yang salah, kamu maunya saudaramu duluan yang minta maaf. Ada g?” Dan lagi-lagi banyak yang angkat tangan. Waktu gw melongo sambil bilang, “Yah…kok gitu sih?” Chiro dengan santainya menjawab, “Kan jujur ini Kak. Saya emang gitu orangnya.” Loh….hahahah….gubrag g sih? Akhirnya gw tekankan, jadi sama saudara harus saling sayang, saling menjaga, dan memaafkan kalau berbuat salah.

Setelah itu gw bertanya, “Berapa ya saudaranya Yusuf?” Kebanyakan anak-anak menjawab 11 orang. Lalu Poda, anak lelaki yang bertubuh mungil ini protes bilang, “Kan ada Dina juga, Kak. Jadi 12 dong.” Seketika itu juga Poda yang biasanya gw ingatkan untuk tidak ngobrol di kelas ini, naik nilainya di mata gw. Hahahaha…. Lalu gw mengeluarkan alat peraga gw yang untungnya sempat gw warnai saat Kebaktian Sekolah Minggu. Hahahaha….. Dan, gw mulai menyanyikan nama-nama 12 anak laki-laki Yakub sambil membuka lipatan-lipatan alat peraganya. Untung juga saat mewarnai alat peraganya sempat latihan nyanyi dengan teman-teman GSM Kelas TK. Kalau engga bisa blank. Kami menyanyikannya dengan memofikasi memberi jeda antara Naftali ke Gad sehingga ketika Isakhar kembali ke nada awal. Dengan demikian tidak menyebutkan dan lagi di antara Yusuf dengan Benyamin. Lalu penutupnya menjadi “Itulah nama duab’las anak Yakub.”

Gw ajak anak-anak bernyanyi bersama sambil mengingat-ingat urutan nama anak-anak Yakub. Setelah itu gw tanyakan kepada mereka, apakah mereka mau punya seperti yang gw pegang. Karena mereka menjawab mau, maka gw bagikanlah kertas yang sudah gw perbanyak. Setiap anak dibagikan satu lembar. Setelah itu gw minta mereka menuliskan nama-nama anak Yakub di bagian dalam kotaknya. Bagian ini seru nih, anak-anak banyak yang menghampiri gw mencolek nanya, “Kakak, yang ini namanya siapa ya?” Lah….dek, kakak juga ndak hafal kalau ndak nyanyi. Jadilah setiap ada yang bertanya, gw ajak mereka bernyanyi sambil menunjuk gambar di kertasnya. Lalu ada Eben yang bertanya, “Kak, Naftali tulisnya seperti apa?” Lalu, menemukan banyak anak-anak yang menuliskan Gad dengan Gat. Atau yang bingung kenapa Dan ada dua. Jadilah gw ajak nyanyi untuk membedakan Dan dan Gad. Lalu gw melihat Timothy yang seperti kebingungan dan mulai buka-buka Alkitab. Wah…Timothy ini adiknya Natanael yang di Kelas SMP dinobatkan sebagai ahli taurat karena hafal banyak cerita Alkitab. Gw mendekati dan bertanya, “Timothy cari apa?” Ketika gw lihat dia sudah membuka Kejadian 29, dan di kertasnya tulisan berhenti di nama Asyer, gw ajak dia baca cepat mencari bagaimana cara penulisan nama Isakhar yang benar. Sepertinya dia kurang sreg ketika gw memandu anak-anak menuliskan Isakhar dengan mengeja sebagai I-S-H-A-K-A-R. Untunglah, lewat Timothy gw bisa meralat kesalahan gw.

Charles yang sudah menyelesaikan menulis nama-nama ke 12 anak laki-laki Yakub lalu meminta gunting dan lem. Dan anak ini berhasil menyelesaikan terlebih dahulu kertas akordion anak-anak Yusuf. Setelah selesai, ia bertanya, “Kak, ini dikumpul g?” Gw menjawab, “Engga, kamu bawa pulang buat cerita sama mamamu di rumah ya.” Meskipun kelas kami selesai paling akhir, gw bahagia melihat anak-anak masih konsentrasi untuk menyelesaikan kreativitasnya. Mereka juga tertib mengembalikan gunting dan lem ke kotak peralatan yang gw siapkan. Kami menutup aktivitas kelas dengan mengulang kembali lagu 12 Anak Yakub sambil semua anak menunjuk alat peraga masing-masing lalu berdoa bersama yang dipimpin oleh gw.

Selesai kelas, GSM lain bertanya apakah masih ada lembar aktivitas kelas kami yang tersisa. Rupanya teman-teman GSM kelas TK menyesal karena mereka memperbanyaknya dengan ukuran yang lebih kecil sehingga satu lembar A4 cukup untuk 2 orang ASM. Teman-teman guru TK memang kebanyakan masih CGSM sehingga masih sungkan jika minta reimbursement fotocopy alat bantu mengajar dengan jumlah yang besar. Memang ini jadi issue karena sistem reimbursement dengan pengurus baru masih belum jelas. Apalagi dengan kondisi anak kelas TK bisa hampir 100 orang, belum lagi harus print berwarna dalam ukuran A3 untuk alat bantu cerita kan berasa ya. Gw sih asyik-asyik aja masukkan ke bendahara seksi. Biar sadar, kalau tiap minggu itu GSM mengeluarkan dana untuk aktivitas di kelas. Gw sempat nyeletuk, “Gw juga mikir, tumben amat kalian gada yang nanya apa mau nitip fotocopy atau engga.” Nova dan Lusi yang memang spesialis tukang fotocopy karena tinggal di daerah kampus, mengaku baru malam sekali mempersiapkan lembar aktivitasnya. Gw juga akhirnya ngaku dosa baru jam 12 malam perbanyak lembarnya. Diana akhirnya menyimpulkan, “Lain kali, kasih Kakak aja buat fotocopy kreativitas di kelas.” SUMPRITTTTT!!!!

Kalau boleh diulang, gw pengennya menyiapkan gambar untuk alat bantu cerita ke adik-adik. Supaya gw jadinya lebih kek read aloud gitu. Meskipun gw bersyukur adik-adik sangat sabar mendengar gw cerita hampir 10 menit hanya mengandalkan gerak tubuh dan intonasi suara, patner kelas gw yang berkali-kali melirik jam dinding di ruangan kami terus terang cukup mengganggu konsentrasi gw. Jadi mungkin dengan adanya alat bantu visual selain merangsang imajinasi anak juga bisa membantu gw lebih singkat dalam bercerita.

Tokoh Perempuan dalam Alkitab: Sifra dan Pua

Lima minggu tidak muncul di Sekolah Minggu ternyata bikin gw deg-degan juga untuk muncul perdana di kelas baru. Iyaa….kami telat sekali masuk kelasnya. Baru sekitar dua bulan lalu sepertinya. Gw kemana lima kali Hari Minggu? Tiga kali gw habiskan gereja bareng Bokap dan Kung. Satu kali ketiduran bablas bareng Tatak Eaaa. Satu kali lagi perut bengkak karena asam lambung akibat begadang. Halah!

Kemarin itu pengajarannya dari Keluaran 1: 15-21. Dengan aplikasi yang diharapkan adalah anak dapat membedakan dan memilih tindakan-tindakan yang lebih baik untuk dilakukan berdasarkan Firman Tuhan. Gw sekarang pegang kelas 5-6 SD bareng tiga orang lainnya. Guru kelas yang ikut sermon hanya Tika. Sayangnya dia masih belum boleh membagikan Firman karena masih baru. Jadilah Mak Wiwish yang dihibahkan ke kelas kami. Tapi Olin dan Tika sebelum sermon sudah sempat berdiskusi  mau ngapain di kelas. Inti diskusi mereka adalah:

  • Meminta adik-adik untuk membayangkan ketika seperti para perempuan yang ada dalam cerita ini.
  • Bagaimana perasaan mereka setelah membaca ayat 21?
  • Meminta adik-adik untuk menuliskan salah satu dari Hukum Taurat yang paling diingat.

Sabtu pagi, setelah membaca berulang-ulang gw pikir perikop ini kuat sekali jika dibawa membahas Titah Pertama dan artinya. Lalu mulailah gw cari-cari art and craft yang membantu anak-anak untuk belajar mengenai Titah Pertama. Awalnya menemukan sebuah kreativitas berupa gambar tangan yang membentuk angka satu. Lalu kemudian bagian bawahnya ditempelkan stick ice cream. Bagian depannya dapat ditulisi isi Titah Pertama lalu bagian belakangnya ditulisi maksud dari Titah Pertama. Setelah mempertimbangkan bahwa kegiatan tersebut akan meliputi menggunting, menempel dan menulis akhirnya gw cari lagi kreativitas lain yang lebih sederhana.  Ketemulah gw dengan origami ini.  Yang dibutuhkan hanya kertas dan alat mewarnai untuk anak-anak menghias Dua Loh Batu versi mereka masing-masing. Gw memutuskan menggunakan kertas Concorde Contour Silver ukuran A4.

Untuk memudahkan kami mengevaluasi kegiatan di kelas, gw menyusun tujuan pembelajaran sebagai berikut:

  1. Anak-anak dapat menyebutkan nama dua bidan Mesir  dan kisah mereka yang takut akan Allah.
  2. Anak-anak mengetahui bahwa yang dilakukan oleh dua bidan Mesir tersebut adalah aplikasi dari Titah Pertama
  3. Anak-anak dapat menyebutkan Titah Pertama dan artinya.

Hari Minggu, karena kelas Mak Wiwish kekurangan personil jadilah Olin yang harusnya tugas untuk pembukaan ditukar guling ke TK A. Gw masuk kelas disambut sebagian anak-anak yang ternyata pernah gw pegang waktu ngajar kelas 1-2 SD. Beberapa dari mereka bertanya, “Kakak ngajar di sini juga?” Dan begitu gw memperkenalkan diri serta minta maaf karena baru hadir, wajah-wajah mereka bersinar-sinar. Gw juga jelaskan bahwa hari ini yang akan membagikan Firman adalah Mak Wiwish. Gw lalu meminta satu ASM laki-laki untuk memimpin doa pembuka, lalu mengajak anak-anak untuk membuka Alkitabnya. Gw yang memimpin pembacaan Alkitab lalu gw serahkan ke Mak Wiwish.

Mak Wiwish lalu menceritakan ulang perikop yang baru kami baca. Mulai dari apa itu bidan, apa itu bersalin, lalu bagaimana keberanian dua bidan itu untuk menolong para perempuan Israel bahkan sampai berani untuk menentang perintah Firaun. Ketika Mak Wiwish bertanya, “Kenapa ya Sifra dan Pua bisa berani seperti itu?” anak-anak cwo gengnya Ludwig dan Chiro yang memang dari kelas 1 SD kemampuan menyimaknya bagus banget menjawab, “Karena mereka takut akan Allah, Kak.” Happy!!

Mak Wiwish lalu melanjutkan bahwa yang dilakukan oleh kedua bidan Mesir itu merupakan contoh aplikasi dari Titah Pertama. Nah….ketika ditanyakan bunyi Titah Pertama, anak-anak ternyata lebih hafal versi Katolik. Jadilah, kami membuka contekan bunyi Titah Pertama dan artinya. Mak Wiwish lalu bertanya apa lagi ya contohnya? Anak-anak menjawab menjawab menolong teman, berbuat baik. Gw yang berpandang-pandangan mata dengan Mak Wiwish lalu menimpali, “Kalau aku menolong temanku yang kesulitan menjawab soal ulangan, boleh ndak Kak?”  Enaknya kerja bareng sama temen yang sehati nih begini nih. Sambut-sambutan umpannya dapet. Mak Wiwish sambil senyum-senyum menanyakan kembali ke adik-adik. Dan hebatnya adik-adik ini kompak jawab, “Tidak boleh Kakak. Itu tidak membantu. Itu berbuat curang.” Hahahaha….

Selesai diskusi, Mak Wiwish menyerahkan ke gw untuk kreativitas. Gw sempat bertanya dengan, “Pertama kali Musa menerima Hukum Taurat, itu ditulis di mana sih?” Anak-anak menyebutkan Dua Loh Batu. Nah….masuklah gw menjelaskan bahwa hari ini kita akan bikin origami Dua Loh Batu. Gw mencontohkan langkah-langkahnya dengan Karton Asturo. Mak Wiwish dan Tika mendampingi anak-anak. Anak-anak tuh antusias mengikuti setiap langkah dan mereka berhasil membuat Dua Loh Batunya. Ketika gw bilang, “Sekarang pelan-pelan buka kembali lipatannya, trus kalian tulis Titah Pertama dan artinya di bagian dalam.” Mereka baru melongo. “Hah….Trus nanti kami lipat lagi, Kak seperti semula?” Hahahaa…..iyalah, dek. Tapi karena waktunya tidak cukup, anak-anak tidak berkesempatan mewarnai kertasnya.

Kami menutup sesi kelas dengan menyanyikan lagu Mengikut Yesus Keputusanku  bersama-sama. Gw mengingatkan tugas mereka selama seminggu ini adalah menghafalkan isi Titah Pertama dan artinya. Lalu Mak Wiwish menutup dengan doa sambil mendoakan adik-adik yang Senin mulai ulangan.

Selesai mengajar kami bertiga sempat evaluasi sebentar. Kalau dari tujuan pengajaran, semuanya tercapai. Tektoknya juga dapat. Terbantu karena ada kontak mata. Masukan dari Mak Wiwish karena dia pendatang, harusnya kami sebagai tuan rumah menjelaskan dia masuknya dimana. Kalau dari Tika, dia bilang biasanya saat pembukaan ada lagu pembuka. Setelah gw jelaskan bahwa untuk pembukaan baiknya singkat dan padat untuk menghemat waktu, Tika setuju. Kalau dari gw, gw bahagia anak-anak bisa mengikuti kegiatan kelas hari ini dengan tenang dan antusias. Gw senang karena mereka tidak merasa origami itu terlalu kekanak-kanakan buat mereka. Cuma memang sepertinya mereka tidak tertarik lagi jika disuruh menghias dengan alat mewarnai. Nah…minggu depan jatahnya Tika buat mencoba.

Ini Dua Loh Batu versi Karton Asturo. Sempat salah lipat karena ndak lihat tutorial lagi. Hehehehe…..

 

Buat gw pribadi, perikop ini mengingatkan bahwa ada orang-orang yang secara identitas legal bukanlah anak Allah. Namun mereka punya hati yang takut akan Allah dan mewujudkannya dalam kehidupan mereka. Dan Allah memperhitungkan ketaatan mereka. Kalau inget obrolan sama seorang Tulang yang sudah lansia, dia menceritakan bahwa orang Kristen masa sekarang sangat beruntung bisa mendapat pengajaran yang sehat dari mana saja dan kapan saja. Bisa membaca Alkitab karena bisa membeli Alkitab ataupun download via gadget. Dan paham Allah yang dipanggil dalam doa-doanya karena sudah mendapatkan pengajaran yang benar. Sementara orang-orang Batak dahulu yang hidup dalam keterbatasan pengajaran Firman dan pun tidak paham-paham betul siapa Allah yang disebut sebagai Debata Ama atau Jahowa, mereka sungguh bertekun dalam doa. Sehingga soal kesaksian hidup, mereka hidup lebih lurus daripada kita orang-orang yang hidup berlimpah anugerah. Dan dalam ketaatan mereka, meskipun hidup tak berlebihan mereka dapat mengenali berkat-berkat pemeliharaan Allah. Hm…….

Kwetiaw Sapi 78 Mangga Besar

Anak Gowl Jakarta pasti pernah dengar Mabes dong?

Bukan Mabes Polri. Mabes yang gw maksud adalah Mangga Besar. Ini tempat wisata kuliner malam yang terkenal dengan Chinese food, durian dan ular. Biasanya kalau ke sini dengan Pak Keriting makannya tidak jauh dari bakmi babi. Dia suka bakmi, gw suka babi.

Kemarin kepala gw pusing sesiangan. Perkiraan gw sih karena pusing dengar kebutuhan dana perbaikan rumah yang meledak plus cuaca yang ndak enak. Akhirnya tanya Pak Keriting apakah dia bisa keluar kantor seperti orang normal lainnya  jam 5 teng untuk makan bareng. Awalnya gw hanya ingin makan nasi goreng abang-abang di pinggir jalan sambil ngobrol nongkrong lihat lampu-lampu kota. Iyeee….gw senorak itu jadi anak Jakarta.  Tapi perkara kebelet pipis dan pertanyaan mau makan di mana ini mengubah rute perjalanan kami.

Untung ada Babang Nex Carlos, YouTuber yang menunjukkan keragaman makanan dengan cara yang beradab, yang kasih rekomendasi tempat makan di Jakarta. Awalnya mau ke Sunter tapi karena ditanya lagi sama Pak Keriting, kita mau kemana akhirnya emosi, muntab trus lihat video lainnya jadilah memutuskan ke Kwetiaw Sapi 78 Mangga Besar. Biasanya kalau ke Mabes gw jadi kenek yang bilang, “Kiri, Pir!” biar si Pak Keriting cari parkir. Tapi kali ini karena ada Waze gw bisa marah-marah sepanjang jalan sambil bilang, “Kok emosi gw jadi ndak stabil gini ya?” Hahahaha….

Kwetiaw Sapi 78 Mangga Besar ini letaknya tertutupi dengan warung-warung tenda yang menghampar sepanjang jalan. Tadi malam kita pilih duduk di bagian dalam dekat kulkas. Mata gw nemu si Badak tersusun di bagian bawah. Gw happy. Kita disamperin sama pelayan yang berhijab yang membawa menu. Gw tanya makanan rekomendasi di sana apaan. Mbaknya jawab, “Kwetiaw Goreng Daging.” Sip…gw pesan satu sama Badak satu. Pak Keriting pesan Kwetiaw Kuah Seafood sama teh tawar panas. Mbaknya baik menurut gw. Dia ramah dan membantu. Ketika gw pesan supaya makanan gw tidak diberikan bawang merah goreng untuk taburan dia menjelaskan hanya menggunakan bawang putih goreng sebagai bumbu sambil memastikan gw tidak punya alergi dengan bawang putih. Lalu satu poin lagi, ketika gw emosi lihat Pak Keriting berusaha membuka dengan gigi plastik rempeyek yang diambil dari meja kasir, Mbaknya menawarkan untuk membantu membukakan dengan gunting. Sayang, gw lupa tanya namanya.

Makanan kita datang lumayan cepat. Pertama lihat mikirnya porsinya sedang. Tapi ternyata pas kenyangnya. Kwetiaw gorengnya menurut gw sudah enak tanpa ditambahin apa-apa. Keseimbangan rasanya sudah tepat. Irisan dagingnya juga banyak dengan ukuran yang manusiawi, ndak kek atm gitu. Gw tambahin cabe yang disediakan, jadi kurang bahagia karena sedikit menarik rasa ke asam tapi ndak pedas. Akhirnya minta cabe potong. Menurut gw lebih enak dengan cabe potong karena gw cuma butuh tambahan rasa pedas saja. Kwetiaw kuahnya Pak Keriting juga enak. Kuah beningnya rasanya ringan dengan bawang putih goreng yang dicincang ada dimana-mana. Baksonya banyak, ada udang sama cumi juga. Pak Keriting sempat tambahin cabe botolan juga, tapi memang lebih mantep pakai cabe potong. Sambil nulis ini juga gw ngiler. Hahahaha….

Makan di sini harus fokus menghadap piring menurut gw. Karena meleng dikit ada aroma durian dari sebelah yang siap memecah perhatian. Kalau Pak Keriting harus fokus karena gw berkali-kali minta tukaran piring. Menurutnya makan dari yang berkuah ke gorengan itu juga memecah konsentrasi. Hahahah… Btw Pak Keriting sempat nanya, “Walaupun namanya Kwetiaw Sapi, tapi karena tempatnya di sini ada ga ya muslim yang mau makan?”. Gw cuma nunjuk satu mbak-mbak berhijab yang datang sama gengnya.

Total damage kita makan berdua tadi malam itu Rp 119.000. Sayangnya Pak Keriting lupa tanya harga makanan per porsinya berapa. Pengalaman pertama makan di sini sih kita berdua puas ya. Kwetiawnya sendiri sudah lembut, ndak terlalu tebal. Paduan bumbunya juga seimbang. Isiannya ramai. Sama kwetiaw kuahnya itu masih panas sampai seruputan sendok terakhir. Mantep banget! Menurut gw tempat makan ini kurangnya cuma satu. Ndak punya menu dessert. Padahal gw udah intip-intip kulkasnya siapa tau ada pudding atau jelly. Kalau ada pasti sempurna deh. Habis makan yang gurih-gurih ketemu yang manis. Jadi makin banyak deh makannya. Hehehee….