SADAR

Nature kita sebagai manusia berdosa adalah mementingkan diri sendiri. Apapun dilakukan yang penting saya senang, saya selamat, saya dapat untung, saya kenyang, saya istirahat. Saya, saya dan saya.

Celakanya nature ini masuk kemana-mana. Ke relasi yang paling intim sekalipun bahkan ke rumah ibadah. Semuanya tentang saya. Ketika saya dipuaskan semua sudah selesai. Dapat partner kerja atau partner hidup yang ketika mengusahakan segala sesuatu dengan baik dan saya puas dengan hasilnya, itu keuntungan bagi saya. Tapi ketika saya ndak cukup berusaha agar partner kerja dan hidup saya merasa puas dengan adanya saya, ya terima saja. Kamu jangan sok perfeksionis dan memaksakan kemauanmu pada hidup saya walaupun itu berkaitan denganmu. Kamu tidak perlu mengajari bagaimana saya hidup. Kamulah yang tidak tulus mengerjakan sesuatu untuk saya. Kamu mau bertanggung jawab kalau saya sampai marah kepadamu?

Lalu jika relasi yang paling intim pun akhirnya dijalankan dengan mindset seperti itu, bisa ditebak betapa dinginnya kasih bukan? Padahal Allah menciptakan kasih dengan mengedepankan kepentingan, kebutuhan, keinginan orang lain diatas diri sendiri. Dengan contoh yang sudah nyata lewat AnakNya yang mati menjadi kurban penebus dosa. Lalu kesabaranNya di tiap-tiap hari dalam pengampunan dan pengudusan umatNya.

Lalu kalau begitu saya yang mengaku sebagai Anak Allah ini sebenarnya menghamba kepada siapa?

Note: tulisan sarkasme ini dibuat dengan kesadaran menyadari kalimat terakhir itu berlaku penuh buat gw. Bahkan dalam hal paling sederhana sekalipun.

 

One thought on “SADAR”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.