Tentang Mengampuni

Katanya kamu mau belajar mengampuni. Mau belajar berdamai, kok tidak mau ketemu lagi sih?

Loh memangnya kenapa? Saya rasa tidak ada korelasinya deh.

Ada dong. Kalau sudah mengampuni harusnya bisa biasa-biasa lagilah.

Hm….biasa-biasa lagi ini maksudnya apa?

Ya seperti biasa lagi dong.

Deskripsikanlah maksudnya biasa itu bagaimana.

Ya….kembali ke seperti semula.

Oh begitu, ya? Saya kira maksudnya biasa-biasa artinya saya tidak perlu menghindar jika bertemu di keramaian. Tidak lagi marah jika mengingat dan melihat orang itu. Dan berlaku biasa-biasa saja seperti halnya saya biasa-biasa saja kepada semua orang lain yang saya kenal.

Trus, kenapa tidak mau diajak bertemu?

Bertemu untuk urusan apa dulu? Kalau menyangkut urusan banyak orang kenapa tidak? Tapi kalau diajak bertemu berdua saja dan kemudian hanya berakhir pada lubang yang sama yaitu perasaan terluka, buat apa?

Tapi katanya sudah mengampuni?

Menurut saya, bagian dari mengampuni yang terbesar adalah mengampuni diri sendiri. Apalagi jika lukanya terus-menerus disebabkan oleh hal yang sama, orang yang sama. Saya ingin bisa memaafkan diri sendiri yang memberi celah orang itu bisa menyakiti saya. Mungkin memang itulah kelemahannya atau mungkin itulah karakternya. Jadi saya pikir jaga jarak aman adalah cara terbaik untuk ia tidak menyakiti saya lagi.

Kalau begitu mengampuni adalah tentang dirimu dong? Bukan tentang orang lain?

Ketika kita disakiti oleh orang yang sama berulang-ulang secara tidak sadar kita sudah masuk dalam relasi yang tidak sehat. Kita menjadi korban yang reaksi alamiah kita adalah ingin membalas bukan?  Jadi daripada saya berlaku hal yang sama kepada orang itu. Atau mungkin melakukannya kepada orang lain yang mungkin hanya ada di waktu dan tempat yang salah. Jadi lebih baik saya memutuskan rantai kekerasan itu dengan sebisa mungkin mencegahnya terjadi.

Lalu kalau begitu, di mana dong kasihmu?

Kasihku ada dengan tidak membiarkan orang itu menyakiti diriku dan tidak membiarkan diriku disakiti dengan cara yang sama dan orang yang sama berulang-ulang. Aku mendoakan orang itu dan diriku untuk bisa berdamai dengan banyak hal dan tidak meneruskan luka yang sama kepada orang lain. Cukup kan?

Image result for forgiving
Sumber: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.