Hubungan Interpersonal, Self Talk

Bosan

Gw lagi merasa bosan. Butuh suasana baru. Minggu lalu sudah berhasil gerek perwakilan warna kulit Para Pemikir Terlalu Jauh untuk belanja seragam kawinan Olin ke Mayestik. Di sana gw sama Tatak Eaaa yang semangat 45 keliling lantai 3 toko Fancy buat cari brokat yang cantik di semua warna kulit kita. Gw sampai nyekeran.  Olin, Mak Wiwish dan Diana duduk manis menyonya. Kalah sama anggota terkicik kita, Cecaaa  the baby boss yang bahagia main petak umpet di balik kain-kain yang dibentangkan dengan badan bertabur glitter yang rontok dari brokat.

Gw sempat naksir satu bahan brokat. Motifnya kecil-kecil dan bahannya halus. Diana and Mak Wiwish mendukung dengan, “Cakep itu warnanya di kulitmu.” Tapi sayangnya warna biru uniknya itu hanya satu-satunya warna dari seri kain itu. Bisikan Tatak Eaa yang berhasil membatalkan  gw meminta kain itu dipotong. “Warnanya cantik sih di kulitmu, Kak. Tapi kau mau pake ke mana? Kau bukan penggemar brokat. Trus kalau warna itu udah ndak musim lagi, ya udah hilang aja gitu.” Lihat lagi bahannya dan memperhatikan sepertinya akan berbakat brudul itu bahannya. Blas….bubar sudah keinginan membelinya.

Minggu ini setelah secara impulsif membeli lip matte hanya bermodalkan racun dari Tatak Eaaa dan video YouTube, perasaan bosan dan hampa masih menyelimut hati.   Akhirnya tangan gatal lihat instagram penjual kain. Lihat harga per-meternya yang lebih murah daripada semangkuk bakmi kesukaan, bikin pengen kalap. Rasanya pengen beli semua. Pengen ganti gaya, ganti warna wardrobe. Sebelum jempol bergerak menghubungi nomor kontak, akhirnya ingat, “Kan badan gw cuma satu ya. Toh sebanyak apapun, gw hanya bisa pakai sepasang karena g tahan sama gerah. Tuh di lemari juga masih ada 3 baju baru yang belum pernah dipakai.” Ditambah lagi kesadaran untuk menentukan akan menjahitkan sebuah kain menjadi baju model apa, butuh waktu kontemplasi yang panjang tak berujung. Akhirnya hati kalah. Tidak jadi beli.

Tapi rasa bosan ini harus diatasi. Harus segera cari dan eksekusi proyek kreatif nih. Okeh, sisi menuntut kesempurnaan pergilah jauh-jauh. Kau hanya mematikan keinginanku mencoba.

I couldn't agree more :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.