Sekolah Minggu

Evaluasi Kelas Mengenal Allah

Sabtu kemarin menghabiskan 6 jam duduk manis memeriksa lembar aktivitas anak-anak yang masih tersebar di penjuru rumah. Total ketemu ada 4 lembar aktivitas. GSM macam apa ini? *sigh!* Akhirnya tidak selesai diperiksa semua karena masih harus bikin kartu ucapan Natal buat anak-anak satu kelas. Ini juga satu ide dadakan di Kamis malam. Maka akhirnya hanya 2 lembar aktivitas yang benar-benar selesai diperiksa dan diberikan coretan tangan tanda cinta dan sisanya tanda kesal karena sakit mata lihat tulisannya dan kesal lihat anak-anak yang tidak serius berusaha mengerjakannya sampai selesai. Nah, salah satu lembar aktivitas yang selesai diperiksa adalah art and craft Mengenal Allah.  Kebetulan masih ingat suasana kelasnya ketika itu. Jadi bolehlah ya diceritakan dulu.

Karena Babang Octa sedang tugas ke luar kota jadilah minta bantuan dari Mak Wiwish, dengan syarat harus GSM yang masuk ke kelas SMP. Kenapa? Karena gw sebenarnya akan konsentrasi total untuk anak-anak yang latihan liturgi. Dan gw lihat teman-teman CGSM yang ada kalau bersama anak SMP jatuhnya kalau tidak nge-buddy malah kalah sama mereka. Big no no! Nanti gw berubah jadi singa. Akhirnya Bons mengajukan diri nemenin gw, karena di kelasnya aktivitasnya adalah latihan menari untuk Natal dan kebetulan patner kelasnya yang handle tarian itu.

Maka seperti biasa, ketika kelas dimulai gw langung meminta anak yang minggu lalu berdoa menunjuk 1 lawan jenisnya untuk memimpin doa pembuka dan kemudian langsung meminta anak itu untuk memilih 1 orang untuk doa penutup. Waktu itu doa pembuka jatuh ke Ganis. Drama deh, pake bilang tidak bisa, tidak mau. Gw hanya bilang, “Kita tidak akan mulai kelas sebelum Ganis berdoa.” Lalu senyum dan berdiri sambil lipat tangan. Teman-temannya mulai kasih semangat sambil kasih poin-poin apa saja yang perlu didoakan. Dan Ganis dengan tubuh kecilnya maju memimpin doa dengan baik. Setelah dia bilang amin gw beri pujian, “Itu kamu bisa. Good job!”

Gw jelaskan kalau hari itu kelas kami kedatangan Kak Bons yang akan menggantikan Babang Octa yang sedang dinas luar kota. Lalu gw tanya, kotbahnya dari mana dan apa isinya. Kalau perikopnya rata-rata anak masih bisa hafal. Tapi begitu ditanya isinya wah…ketahuan deh mana yang benar mendengar. Begitu gw tanya, “Jadi resume kotbahnya dalam satu kalimat disebutkan kita boleh bermegah karena….” sambil tunjuk anak-anak yang mulutnya mulai komat-kamit, gw menemukan Afriel yang berbisik, “Memahami dan mengenal Allah.” Harusnya dapat bintang ya. Hehehehe….

Pertanyaannya gw lanjutkan dengan, “Jadi kalau mau mengenal Allah, dari mana sumbernya?” sambil mengangkat Alkitab. Anak-anak ternyata paham clue yang gw berikan, mostly bisa menjawab dari Akitab. Nah, setelah itu gw minta mereka menyiapkan Alkitab dan alat tulisnya. Gw jelaskan kalau hari itu kami akan belajar mengenal Allah lewat art and craft yang tugas mereka menemukan seperti apa Allah itu yang disebutkan dalam ayat-ayat yang ada. Lalu kemudian haruslah dituliskan di bawah setiap ayatnya. Lalu mereka harus menggunting kedua lembar kertas tersebut sesuai dengan garis tegas bagian luar, kemudian diwarnai lalu disatukan dengan menggunakan kancing jepret. Gw ulangi 1x lagi perintahnya. Tugas mereka adalah membuka Alkitab sesuai ayat petunjuk, menulis karakter Allah yang dijelaskan di sana, menggunting, mewarnai dan menyatukan dua lembar kertas tersebut dengan kancing jepret. Gw tanya apakah mereka paham dengan perintahnya? Jika sudah maka mereka harus lakukan dalam senyap. Tidak ada yang boleh berbicara kecuali bertanya karena akan ada teman-teman yang latihan liturgi. Dan nanti mereka akan dibantu oleh Bons.

Lalu gw minta anak-anak yang akan latihan liturgi berpindah duduk ke sisi kiri dan anak-anak yang pure mengerjakan art and craft di sisi kanan. Setelah itu gw dan Bons mulai bergerilya membagi-bagikan lembaran kertas, gunting dan pensil warna. Kancing jepret karena dibeli dalam jumlah yang sangat pas-pasan karena harganya lumayan, maka kami putuskan dibagikan terakhir setelah mereka benar-benar akan menyatukan kedua lembaran kertasnya.

Art and craft ini cukup membantu untuk anak-anak bekerja dengan tenang karena terdengar mudah tapi ternyata banyak yang harus dikerjakan. Maka anak-anak yang latihan liturgi pun terbantu karena gw bisa mendengarkan suara mereka dengan jelas. Kelas kami dapat liturgi Bahasa Inggris. Ini bisa menjadi momok bagi sebagian anak, sehingga gw membiarkan mereka untuk membaca jika masih salah. Yang penting pengucapannya benar dan jelas. Untuk menghafal mereka masih punya waktu 3 minggu lagi. Di sela-sela anak yang latihan liturgi, ada Ganis yang berusaha mengkonfirmasi apakah Mal itu singkatan dari Maleakhi?  Dan gw menemukan Bons sudah duduk manis di depan anak-anak sambil mulai mewarnai. Bikin gemes ya. Hehehehe….

Sepertinya mereka sudah mulai terbiasa dengan gunting sehingga kali ini hasil guntingan anak-anak lebih rapi dibandingkan Memperingati 500 Tahun Reformasi Gereja. Selain itu juga mereka lebih niat mewarnainya. Ada juga yang berimprovisasi dengan doodling. Bons banyak membantu untuk menyatukan kedua kertas sehingga posisinya tepat di tengah jadi ketika lembaran bagian depan diputar, semuanya simetris.

Nah, bagian periksa 10 ayat itu yang bikin gw geleng kepala. Ada yang nyontek berjemaah sehingga salahnya di bagian yang sama. Nah, yang bikin takjub itu bagian Maz 139: 7-12.  Hampir semua menuliskan dahsyat, pelindungku, penolongku dan kata-kata ajaib lainnya. Gw menemukan hanya 3 anak yang bisa merumuskan dengan benar. Salah satunya adalah Nael, abangnya Carel yang pendiam dan setiap kali dipanggil namanya ekspresi wajahnya seperti mau bilang, “Aku g salah, Kak. Sungguh deh!”. Dan Nael ini salah satu anak yang observasinya bagus sekali. Semua dijawab dengan lengkap dan tepat. Terharu!

Dan bagian lain yang bikin terharu di kelas hari itu adalah ada Yose yang segera setelah mengumpulkan art and craft-nya langsung berdiri dan berkeliling mengumpulkan pensil warna dari teman-temannya untuk dimasukkan ke dalam kotak peralatan. It marks in my heart. Sementara ketika minta Alex dan Christian untuk bantu mengumpulkan gunting dan sampah potongan kertas-kertas mereka langsung teriak, “Woi…gunting, woi sampah.” Gubrak!!

Gw menutup kelas dengan wrap up, “Jadi kalau hari ini kita sudah belajar tentang karakter Allah, kiranya makin bikin kita semangat untuk saat teduh.” Dan seperti biasa ketika ditanyakan siapa yang saat teduhnya full dalam minggu lalu, jawabannya masih sama, “Kan saat teduh bersama di sekolah, Kak!” Gubrak lagi!!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.