Sekolah Minggu

Perjumpaan Yusuf dengan Saudara-Saudaranya

Sepanjang minggu lalu, gw memfasilitasi sebuah pelatihan hanya berdua dengan peserta 17 orang. Pelatihan yang tujuannya bukan hanya meningkatkan level pengetahuan tapi juga keterampilan terus terang menghisap tenaga karena gw harus observasi penuh. Sampai-sampai Sabtu gw habiskan dengan leyeh-leyeh dengan harapan badan yang rasanya seperti babak belur karena hampir selalu berdiri selama 8 jam setiap harinya, dapat lebih lega. Tapi ya, Sabtu malam gw kembali stress karena memikirkan drama apa lagi yang akan timbul di Hari Minggu. Halah….

Periksa WAG kelas, kok semuanya adem ya. Ndak ada yang tanya besok mau apa. Gw mencoba berpikir positif karena toh sermonnya sudah diadakan 2 minggu sebelumnya. Gw dan Tika bersama-sama dengan rombongan kelas TK sudah sempat membahas rangkaian utuh cerita Yusuf lengkap dengan aktivitas untuk mengenalkan nama-nama 11 saudara laki-laki Yusuf lainnya. Tapi kok terlalu senyap ya? Gw juga sempat bertanya-tanya, kok gada guru kelas lain yang nanya mau nitip perbanyak gambar ya? Akhirnya malamnya gw baru kutak-katik link Pinterest yang gw kirim ke grup GSM, memindahkan ke word dengan ukuran A4 lalu tepat saat pergantian hari, gw memperbanyak lembar aktivitasnya. Untuk peraga gw putuskan mencetak selembar dalam ukuran A3.

Minggu pagi di WAG Sekolah Minggu, Tika memberi info tidak bisa datang karena sakit. Sedangkan satu GSM lagi memberi info tidak bisa ikut sermon karena urusan pekerjaan. Gw berpikir, ok…tidak ikut sermon tetapi tidak juga berinisiatif mempersiapkan diri untuk terlibat dalam pengajaran kelas jadi sebaiknya tidak usah dipaksakan. Maka jadilah gw single fighter memimpin kelas dari awal sampai akhir. Perikopnya dari Kejadian 44: 1-5 mengenai Piala Perak Yusuf yang Hilang.

Tujuan pengajaran yang gw rancang untuk adik-adik Kelas 5-6 SD adalah:

  1. Anak-anak mengetahui kisah pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya
  2. Anak-anak mengetahui nama-nama saudara Yusuf
  3. Anak-anak belajar untuk mengasihi saudara-saudaranya seperti Yusuf

Begitu menyebutkan salam, anak-anak kelas 3-4 SD sudah dengan kompak mengeluarkan suara dari perut dengan segenap tenaga. Lalu dari kelas 1-2 SD terdengar suara kursi berjatuhan. Karena kami hanya dibatasi partisi yang tak kedap suara, maka gw putuskan kami harus juga menyumbang polusi suara dalam bentuk nyanyian. Akhirnya gw ajaklah anak-anak bernyanyi I Want To Be Your Friend lengkap dengan gayanya. Lumayan, dinyanyikan tiga kali cukup membuat anak-anak harus berputar mencari pasangan. Lalu setelah itu gw minta anak yang terakhir memimpin doa menunjuk temannya yang merupakan lawan jenis kelaminnya untuk memimpin doa. Kemarin, Rafael yang dapat anugerah memimpin doa. Setelah itu, gw minta anak-anak untuk membuka Alkitabnya. Kami kemudian bersama-sama membaca perikopnya dengan suara yang kuat.

Karena perikopnya hanya menceritakan mengenai Yusuf memerintahkan agar kepala rumahnya memenuhi karung saudara-saudaranya dengan gandum sekaligus meletakkan kembali uang mereka ditambah dengan menyelinapkan piala peraknya ke dalam karung gandum Benyamin, gw memutuskan untuk menceritakan dengan singkat bagaimana Yusuf setelah dijahati oleh 10 abangnya akhirnya menjadi Mangkubumi di Mesir. Ketika kelaparan sampai ke Tanah Kanaan, maka ke-10 abangnya ini akhirnya berangkat ke Mesir untuk membeli gandum. Yusuf mengenali mereka, tetapi saudara-saudaranya tidak. Gw menceritakannya seperti seorang narrator. Saat dialog antara Yusuf dan abang-abangnya, gw gagal menggunakan suara yang berbeda. Akhirnya gw lebih fokus ke ekspresi tiap tokoh sama gw pindah-pindah posisi untuk menggambarkan tokoh yang sedang berbicara. Di akhir cerita, gw bertanya apa yang dapat kita pelajari dari cerita ini? Igor yang baru gw kenal di kelas ini dengan spontan menjawab: harus memaafkan saudara yang berbuat jahat ke kita, Kak. Lalu yang lain menambahkan, harus sayang sama saudara Kak. Ah…gw bahagia.

Waktu gw tanya, siapa di sini yang sering berantem sama saudaranya; abang, kakak, adik, atau sepupunya? Hampir semua angkat tangan kecuali Keiko yang anak tunggal. Lalu gw tanya lagi, “Siapa yang kalau lagi berantem sama saudaranya tidak mau menegur duluan karena gengsi. Meskipun kamu yang salah, kamu maunya saudaramu duluan yang minta maaf. Ada g?” Dan lagi-lagi banyak yang angkat tangan. Waktu gw melongo sambil bilang, “Yah…kok gitu sih?” Chiro dengan santainya menjawab, “Kan jujur ini Kak. Saya emang gitu orangnya.” Loh….hahahah….gubrag g sih? Akhirnya gw tekankan, jadi sama saudara harus saling sayang, saling menjaga, dan memaafkan kalau berbuat salah.

Setelah itu gw bertanya, “Berapa ya saudaranya Yusuf?” Kebanyakan anak-anak menjawab 11 orang. Lalu Poda, anak lelaki yang bertubuh mungil ini protes bilang, “Kan ada Dina juga, Kak. Jadi 12 dong.” Seketika itu juga Poda yang biasanya gw ingatkan untuk tidak ngobrol di kelas ini, naik nilainya di mata gw. Hahahaha…. Lalu gw mengeluarkan alat peraga gw yang untungnya sempat gw warnai saat Kebaktian Sekolah Minggu. Hahahaha….. Dan, gw mulai menyanyikan nama-nama 12 anak laki-laki Yakub sambil membuka lipatan-lipatan alat peraganya. Untung juga saat mewarnai alat peraganya sempat latihan nyanyi dengan teman-teman GSM Kelas TK. Kalau engga bisa blank. Kami menyanyikannya dengan memofikasi memberi jeda antara Naftali ke Gad sehingga ketika Isakhar kembali ke nada awal. Dengan demikian tidak menyebutkan dan lagi di antara Yusuf dengan Benyamin. Lalu penutupnya menjadi “Itulah nama duab’las anak Yakub.”

Gw ajak anak-anak bernyanyi bersama sambil mengingat-ingat urutan nama anak-anak Yakub. Setelah itu gw tanyakan kepada mereka, apakah mereka mau punya seperti yang gw pegang. Karena mereka menjawab mau, maka gw bagikanlah kertas yang sudah gw perbanyak. Setiap anak dibagikan satu lembar. Setelah itu gw minta mereka menuliskan nama-nama anak Yakub di bagian dalam kotaknya. Bagian ini seru nih, anak-anak banyak yang menghampiri gw mencolek nanya, “Kakak, yang ini namanya siapa ya?” Lah….dek, kakak juga ndak hafal kalau ndak nyanyi. Jadilah setiap ada yang bertanya, gw ajak mereka bernyanyi sambil menunjuk gambar di kertasnya. Lalu ada Eben yang bertanya, “Kak, Naftali tulisnya seperti apa?” Lalu, menemukan banyak anak-anak yang menuliskan Gad dengan Gat. Atau yang bingung kenapa Dan ada dua. Jadilah gw ajak nyanyi untuk membedakan Dan dan Gad. Lalu gw melihat Timothy yang seperti kebingungan dan mulai buka-buka Alkitab. Wah…Timothy ini adiknya Natanael yang di Kelas SMP dinobatkan sebagai ahli taurat karena hafal banyak cerita Alkitab. Gw mendekati dan bertanya, “Timothy cari apa?” Ketika gw lihat dia sudah membuka Kejadian 29, dan di kertasnya tulisan berhenti di nama Asyer, gw ajak dia baca cepat mencari bagaimana cara penulisan nama Isakhar yang benar. Sepertinya dia kurang sreg ketika gw memandu anak-anak menuliskan Isakhar dengan mengeja sebagai I-S-H-A-K-A-R. Untunglah, lewat Timothy gw bisa meralat kesalahan gw.

Charles yang sudah menyelesaikan menulis nama-nama ke 12 anak laki-laki Yakub lalu meminta gunting dan lem. Dan anak ini berhasil menyelesaikan terlebih dahulu kertas akordion anak-anak Yusuf. Setelah selesai, ia bertanya, “Kak, ini dikumpul g?” Gw menjawab, “Engga, kamu bawa pulang buat cerita sama mamamu di rumah ya.” Meskipun kelas kami selesai paling akhir, gw bahagia melihat anak-anak masih konsentrasi untuk menyelesaikan kreativitasnya. Mereka juga tertib mengembalikan gunting dan lem ke kotak peralatan yang gw siapkan. Kami menutup aktivitas kelas dengan mengulang kembali lagu 12 Anak Yakub sambil semua anak menunjuk alat peraga masing-masing lalu berdoa bersama yang dipimpin oleh gw.

Selesai kelas, GSM lain bertanya apakah masih ada lembar aktivitas kelas kami yang tersisa. Rupanya teman-teman GSM kelas TK menyesal karena mereka memperbanyaknya dengan ukuran yang lebih kecil sehingga satu lembar A4 cukup untuk 2 orang ASM. Teman-teman guru TK memang kebanyakan masih CGSM sehingga masih sungkan jika minta reimbursement fotocopy alat bantu mengajar dengan jumlah yang besar. Memang ini jadi issue karena sistem reimbursement dengan pengurus baru masih belum jelas. Apalagi dengan kondisi anak kelas TK bisa hampir 100 orang, belum lagi harus print berwarna dalam ukuran A3 untuk alat bantu cerita kan berasa ya. Gw sih asyik-asyik aja masukkan ke bendahara seksi. Biar sadar, kalau tiap minggu itu GSM mengeluarkan dana untuk aktivitas di kelas. Gw sempat nyeletuk, “Gw juga mikir, tumben amat kalian gada yang nanya apa mau nitip fotocopy atau engga.” Nova dan Lusi yang memang spesialis tukang fotocopy karena tinggal di daerah kampus, mengaku baru malam sekali mempersiapkan lembar aktivitasnya. Gw juga akhirnya ngaku dosa baru jam 12 malam perbanyak lembarnya. Diana akhirnya menyimpulkan, “Lain kali, kasih Kakak aja buat fotocopy kreativitas di kelas.” SUMPRITTTTT!!!!

Kalau boleh diulang, gw pengennya menyiapkan gambar untuk alat bantu cerita ke adik-adik. Supaya gw jadinya lebih kek read aloud gitu. Meskipun gw bersyukur adik-adik sangat sabar mendengar gw cerita hampir 10 menit hanya mengandalkan gerak tubuh dan intonasi suara, patner kelas gw yang berkali-kali melirik jam dinding di ruangan kami terus terang cukup mengganggu konsentrasi gw. Jadi mungkin dengan adanya alat bantu visual selain merangsang imajinasi anak juga bisa membantu gw lebih singkat dalam bercerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.